Sabtu, 25 Februari 2017

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA



Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).
Rosenberg menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internetdalam  pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah sebagian dari media elektronik yang digunakan Pengajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’(pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk ‘discussion group’dengan bantuan profesional dalam bidangnya. Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, dosen/guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya.
Semua pendidik hendaknya bisa memanfaatkan sistem e-learning pada proses pembelajarannya. Selain itu, peserta didik harus dapat menggunakan e-learning secara cerdas dan bijak, yaitu bukan hanya sebagai alat hiburan semata tetapi juga dapat digunakan sebagai alat pendukung proses pembelajaran. E-learning tidak hanya mencakup suatu instruksi yang bersifat satu arah, tetapi menekankan adanya komunikasi, khususnya antara pendidik dan peserta didik, pendidik dan pendidik, serta antar sesama peserta didik. Untuk penyempurnaan kedepan agar dihasilkan model sistem e-learning yang optimal dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut.
1.    Untuk menciptakan e-learning yang memadai perlu ditunjang oleh sarana dan infrastruktur yang memadai.
2.     Agar sistem e-learning dapat terjaga secara kontinu dan up to date, perlu dipelihara oleh tim khusus untuk setiap sekolah.
3.   Diperlukan sosialisasi yang terus menerus dalam pengembangan e-learning untuk mengubah mainset seluruh  peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.

Pengembangan E- learning mengenai Hidrokarbon
Pengembangan bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
1.      Tahap pendefinisian (define)
Tahap pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1) analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
2.      Tahap perencanaan (design)
Tahap perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung, yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara intensif dengan dosen pembimbing.
3.      Tahap pengembangan (develop)
Pada tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah:
(1) konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2) validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh dari validator,
(3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator,
(4) revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan digunakan, dan
(5) uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
4.      Tahap penyebarluasan (disseminate)
Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Dalam pembelajaran e-learning seharusnya siswa dapat didampingi oleh orang yang lebih dewasa untuk mengarahkan tentang pelajaran yang akan diakses, karena internet adalah suatu bahan ajar yang bermanfaat namun banyak juga kekurangannya bahkan membahayakan bagi anak yang belum dapat memilah mana yang baik dan mana yang benar.
E-Learning  merupakan suatu  model pembelajaran  yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media  internet,  atau media jaringan komputer lain.  E-learning  sebagai sebuah alternatif pembelajaran yang berbasis elektronik memberikan banyak manfaat terutama terhadap proses pendidikan yang dilakukan dengan jarak jauh. Efektifitas penggunaan media ini harus didukung oleh subjek dari pendidikan yakni guru/dosen dan siswa/mahasiswa dalam pengasaan pengoperasian media tersebut. 
Dalam merancang sistem  e-learning  perlu mempertimbangkan dua hal, yakni peserta didik yang menjadi target dan hasil pembelajaran yang diharapkan. Pemahaman atas peserta didik sangatlah penting, yakni antara lain adalah harapan dan tujuan mereka dalam mengikuti  e-learning, kecepatan dalam mengakses internet atau jaringan, keterbatasan  bandwidth,  beaya untuk akses internet, serta latar belakang pengetahuan yang menyangkut kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman atas hasil pembelajaran diperlukan untuk menentukan cakupan materi, kerangka penilaian hasil belajar, serta pengetahuan awal.




DAFTAR PUSTAKA

Anderson, B. (2005). “Strategic e-learning implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1. ISSN 1436-4522
Kunandar. 2008.  Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers Manaf, Abdul. 2009. Profesionalisme Guru dalam Peningkatan Mutu Pendidikan.
Oentoro, Jimmy B. 2010. Indonesia Satu, Indonesia Beda, Indonesia Beda. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Silahudin. (2015). Penerapan E-LEARNING dalam Inovasi Pendidikan. Jurnal Ilmiah CIRCUIT Vol. 1 No. 1 Juli 2015.
Sudyana, dkk., 2007.  Efek Model Pembelajaran Generatif terhadap Pemahaman Belajar Kimia di  Kalangan Siswa SMA.  Jurnal Pancaran Pendidikan. Tahun XX, No. 67. 


18 komentar:

  1. Mengapa E-learning tidak hanya mencakup suatu instruksi yang bersifat satu arah? Jelaskan..

    BalasHapus
  2. Bagaimana kita sebagai calon guru untuk menimalisir kekurangan e-leaning pada Kecenderungan seseorang siswa yang mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial ?

    BalasHapus
  3. Dalam merancang sistem e-learning perlu mempertimbangkan dua hal, yakni peserta didik yang menjadi target dan hasil pembelajaran yang diharapkan.jelaskan kedua hal tersebut

    BalasHapus
  4. Mengapa anda mengembangkan e-laerning ini? Apa kelebihannya sehingga anda memilih ini?

    BalasHapus
  5. Mengapa anda mengembangkan e-laerning ini? Apa kelebihannya sehingga anda memilih ini?

    BalasHapus
  6. bagaimana cara anda sebagai calon guru dapat mentransformasikan pembelajaran kimia yang bersifat abstrak menjadi konkret melalui e-learning

    BalasHapus
  7. Menurut anda apakah sistem e-learning ini cocok untuk setiap pembelajaran kimia? Mengapa? Lalu apakah siswa dapat mengerti mater dengan baiki jika digunakan sistem e-learning?

    BalasHapus
  8. menurut anda apakah e-learning yang semakin berkembang pesat ini dapat menggantikan posisi sekolah yang sekarang dijalani oleh siswa? jelaskan!

    BalasHapus
  9. Apa saja kendala yang sering muncul dalam pengembangan e-learning dalam pembelajaran?

    BalasHapus
  10. apakah e-learning yang anda gunakan ini sudah cukup efektif dalam pembelajran?

    BalasHapus
  11. apa upaya guru supaya e-learning yang ia gunakan dapat menarik minat siswa untuk belajar?

    BalasHapus
  12. Dalam pembelajaran e-learning seharusnya siswa dapat didampingi oleh orang yang lebih dewasa untuk mengarahkan tentang pelajaran yang akan diakses, karena internet adalah suatu bahan ajar yang bermanfaat namun banyak juga kekurangannya bahkan membahayakan bagi anak yang belum dapat memilah mana yang baik dan mana yang benar.
    apakah efektif jika setiap hendak melakukan kegiatan aktif dalam elearning selalu didampingi orang dewasa ?

    BalasHapus
  13. apa saja usaha yang dapat dilakukan oleh guru dalam meminimalisir dampak negatif dari penggunaan elearning sebagai media pembelajaran?

    BalasHapus
  14. sedikit menambahkan
    E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
    Komponen yang membentuk e-Learning adalah:
    1. Infrastruktur e-Learning: Infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.
    2. Sistem dan Aplikasi e-Learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas kita.
    3. Konten e-Learning: Konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun. Depdiknas cukup aktif bergerak dengan membuat banyak kompetisi pembuatan multimedia pembelajaran. Pustekkom juga mengembangkan edukasi.net yang mem-free-kan multimedia pembelajaran untuk SMP, SMA dan SMK. Juga mari kita beri applaus ke pak Gatot (Biro PKLN) yang mulai memberikan insentif dan beasiswa untuk mahasiswa yang mengambil konsentrasi ke Game Technology yang arahnya untuk pendidikan. Ini langkah menarik untuk mempersiapkan perkembangan e-Learning dari sisi konten

    BalasHapus
  15. Apakah dengan penggunaan e-learning dalam pembelajaran mampu menghubungkan ranah afektif dan psikomotorik pada siswa? Lalu bagaimana cara anda jika anda berperan sebagai seorang guru dalam mengevaluasi hal tersebut?

    BalasHapus
  16. berikan contoh tahap pendefinisian!

    BalasHapus
  17. bagaimana cara anda menggunakan e-learning ini untuk mengembangankan suatu pembelajaran kimia?

    BalasHapus
  18. menambahkan
    Adapun kelemahane-learningdipandang dari segi peserta didik antara lain:
    1. Merasa kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk modelfully online e-learning format.
    2. Keterampilan menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil akhir pembelajaran.
    3. Peserta didik yang tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti tahap-tahap proses pembelajaran.
    4. Ada beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari tanpa bimbingan pendidik.
    5. Adanya permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya peserta pendidik didalam mengikuti pembelajaran secarae-learning.

    BalasHapus